PEMIKIRAN
IBNU RUSYD DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Oleh
:
Rinda
Natasya Arindi
Indah
Sri Rahayu
Asnita
Ningsih
Sidi Gaazalba
Program Studi Tadris IPA dan Manajemen
Pendidikan Islam
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri
Kendari
Abstrak
Karya tulis
ini, membahas tentang
pemikiran Ibnu Rusyd dalam Pendidikan Islam. Pemikiran beliau dikenal dengan
konsep integralistik dan teosentrik.
Dalam dunia ilmu pengetahuan, Ibnu Rusyd dikenal sebagai seorang perintis ilmu
jaringan tubuh. Beliau juga mempelajari matematika, fisika astronomi, logika,
filsafat dan
ilmu pengobatan. Ibnu Rusyd adalah tokoh muslim yang
produktif dalam menghasilkan karya serta beliau belajar dari pemikiran
Aristoteles namun,
dalam berfilsafat beliau selalu melakukan imitasi terhadap pemikiran
Aristoteles.
Kata Kunci : Pemikiran, Pendidikan, Islam.
A.
Biografi
Ibnu Rusyd (1128 M)
Ibnu Rusyd adalah salah satu pemikir
muslim yang lahir sekitar abad 12 M. Pemikiran beliau dikenal dengan konsep
integralistik dan teosentrik, dimana usaha dan kegiatan pencarian manusia harus
disandarkan pada kebenaran ilaihiah. Ibnu Rusyd lahir di Cordova,Spanyol pada
tahun 520 H dan wafat di Marrakesh, Maroko pada tahun 595 H. Nama lengkapnya
adalah Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rushyd dan dikenal dengan nama
Averroes di Barat. Dalam dunia ilmu pengetahuan, Ibnu Rusyd dikenal sebagai
seorang perintis ilmu jaringan tubuh.Ia terlahir pada tahun 520 H/1128 M, beliau
lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Rusyd. Nama yang biasa kita kenal juga adalah
Averrois. Sebutan ini sebenarnya di ambil dari nama kakeknya. Kakek dan ayahnya
adalah mantan hakim di Andalus dan ia sendiri pada tahun 565 H/1169 M diangkat
pula menjadi hakim di Seville dan Cordova. Karena prestasinya yang luar biasa
dalam ilmu hukum, pada tahun 1173 M ia dipromosikan menjadi ketua Mahkamah
Agung, Qadhi al-Qudhat di Cordova.
Ibnu Rusyd bersama-sama memperbaiki dan
merevisi buku Imam Malik, Al-Muwaththa, yang dipelajarinya bersama ayahnya Abu
Al-Qasim dan ia menghapalnya. Beliau juga mempelajari matematika,
fisika,astronomi, logika, filsafat, dan ilmu pengobatan. Guru-gurunya dalam
ilmu-ilmu tersebut tidak terkenal, tetapi secara keseluruhan Cordova terkenal
sebagai pusat studi filsafat.Sehingga Seville (Sevilla) terkenal karena
aktivitas-aktivitas artistiknya.Cordova pada saat itu menjadi saingan bagi
Damaskus, Baghdad, Kairo, dan kota-kota besar lainnya di negeri-negeri Islam
Timur.
Sebagai seorang tokoh yang berasal dari
keturunan terhormat, dan keluarga ilmuan, maka ketika dewasa Ibnu Rusyd
diberikan jabatan untuk pertama kalinya yakni sebagai hakim pada tahun
565H/1169 M, di Seville. Kemudian ia pun kembali ke Cordova, sepuluh tahun di
sana, ia pun diangkat menjadi qhadi, selanjutnya ia juga pernah menjadi dokter
Istana di Cordova, dan sebagai seorang filosof dan ahli dalam hukum ia
mempunyai pengaruh besar dikalangan Istana, terutama di zaman Sultan Abu Yusuf
Ya’qub al-Mansur (1184-99 M). Sebagai seorang filosof, pengaruhnya di kalangan
Istana tidak disenangi oleh kaum ulama dan kaum fuqaha.Sewaktu timbul
peperangan antara Sultan Abu Yusuf dan kaum Kristen, sultan berhajat pada
kata-kata kaum ulama dan kaum fuqaha. Oleh karena itu, kondisi dan situasi menjadi
berubah, Ibnu Rusyd disingkirkan oleh kaum
ulama dan kaum fuqaha. Beliau dituduh membawa aliran filsafat yang tidak
sesuai dengan ajaran Islam, akhirnya Ibnu Rusyd ditangkap dan diasingkan ke
suatu tempat yang bernama Lucena di daerah Cordova.Oleh sebab itu, kaum filosof
tidak disenangi lagi, maka timbullah pengaruh kaum ulama dan kaum fuqaha. Ibnu
Rusyd sendiri dipindahkan ke Maroko dan meninggaldi sana dalam usia 72 tahun
pada tahun 1198 M.
B.
Karya-Karya
Ibnu Rusyd
Pada masa Ibnu Rusyd, banyak karya Aristoteles
yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan tulisan-tulisan
Pseudo-Aristotelian telah dikenali.Banyak tokoh-tokoh yang menyamakan dan
membedakan Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.Perbedaan utama Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd
adalah bahwa yang terakhir lebih memiliki pemahaman yang jelas dan luas tentang
Aristoteles. Aristoteles, bagi Ibnu Rusyd adalah pemikir yang sangat besar,
filsuf terbesar yang pernah lahir, yang sama sekali tidak memiliki kesalahan
dalam pikiran-pikirannya. Ibnu Rusyd sangat mengagumi logika Aristoteles. Ia menyatakan “Tanpanya, orang
tidak bisa bahagia dan sungguh kasihan bahwa Plato dan Socrates telah
menyia-nyiakannya”.
Diantara banyak karyanya, ada sebuah
kitab yang khusus untuk mengkritik pemikiran al ghazali.Kitab itu bernama
Tahafut at tahafut. Karya-karya Ibnu Rusyd antara lain sebagai berikut:
1. Tahafut
at –Tahafut. Dalam kitab ini secara rinci Ibnu Rusyd mengkritik al ghazali.
Kitab Tahafut at-Tahafut lebih dinamis dari pada kitab fashl dalam menjelaskan
keunggulan agama yang didasarkan pada wahyu atas akal yang dikaitkan dengan
agama yang murni rasional.
2. Fashl
al-maqal fi ma bain al-Hikmat wa al-Syari’ah min al-Ittishal. Kitab Fashl
al-maqal fi ma bain al-Hikmat wa al-Syari’ah min al-Ittishal menjelaskan
tentang hubungan antara filsafat dengan agama. Dalam kitab ini dapat ditemukan
bagaimana agama dan filsafat berdialog.
3. Al-Kasyf’an
Manahij al-Adillat fi ‘Aqa’id al-Millat. Kitab Al-Kasyf’an Manahij al-Adillat
fi ‘Aqa’id al-Millat membahas tentang kritik terhadap metode para ilmu kalam
dan sufi.
C.
Pemikiran
Ibnu Rusyd
Ibnu Rusyd menghabiskan
waktunya untuk membuat syarah atau komentar atas karya-karya Aristoteles, dan
berusaha mengembalikan pemikiran Aristoteles dalam bentuk aslinya. Di Eropa
latin, Ibnu Rusyd terkenal dengan nama
Explainer (asy-Syarih) atau juru tafsir Aristoteles. Sebagai juru tafsir
martabatnya tak lebih rendah dariAlexandre d’Aphrodise (filosof yang
menafsirkan filsafat Aristoteles abad ke-2 Masehi) dan Thamestius.
Dalam beberapa hal Ibnu Rusyd tidak
sependapat dengan tokoh-tokoh filosof sebelumnya, seperti al-Farabi dan Ibnu
Sina dalam memahami filsafat Aristoteles, walaupun dalam beberapa persoalan
filsafat ia tidak bisa lepas dari pendapat dari kedua filosof muslim tersebut.
Menurutnya pemikiran Aristoteles telah bercampur baur dengan unsur-unsur
Platonisme yang dibawa komentar-komentar Alexandria.Oleh karena itu, Ibnu Rusyd
dianggap berjasa besar dalam memurnikan kembali filsafat Aristoteles.Atas saran
gurunya Ibnu Thufail yang memintanya untuk menerjemahkan fikiran-fikiran
Aristoteles pada masa dinasti Muwahhidun tahun 557-559 H.
Namun demikian, walaupun Ibnu Rusyd
sangat mengagumi Aristoteles bukan berarti dalam berfilsafat beliau selalu
melakukan imitasi terhadap pemikiran Aristoteles. Ibnu Rusyd memiliki cara
pandang yang integralistik-teosentrik dimana kebenaran wahyu dijadikan sandaran
bagi kerja akal, dan bagaimana akal dan wahyu bisa dijadikan pisau analisis
dalam memecahkan kesukaran memahami realitas dan fenomena.
Dalam kitabnya Fash al maqal ini, ibn
Rusyd menjelaskan bahwa mempelajari filsafat bisa dihukumi wajib.Dengan dasar
argumentasi bahwa filsafat tak bedanya mempelajari hal-hal yang wujud dimana
manusia dapat mengambil pelajaran dari berfilsafat itu.Filsafat dijadikan
sebagai instrument untuk mensyukuri peran akal sebagai potensi dasar manusia.
Selanjutnya, Ibnu Rusyd menegaskan bahwa terdapat 3 cara/macam manusia dalam
memperoleh pengetahuan sebagai berikut:
1. Lewat
metode al-Khatabiyyah (Retorika),
2. Lewat
metode al-Jadaliyyah (dialetika)
3. Lewat
Metode al-Burhaniyyah (demonstratif).
Hubungannya dengan kefilsafatan, Ibnu
Rusyd menjelaskan tentang konsep ketuhanan bahwa Allah adalah Penggerak Pertama
(muharrik al-awwal).Sifat positif yang dapt diberikan kepada Allah ialah Akal,
dan Maqqul.Wujud Allah Adalah Esa-Nya. Wujud dan ke-Esa-an tidak berbeda dari zat-Nya.
Konsepsi Ibnu Rusyd tentang ketuhanan terbukti merupakan pengaruh Aristoteles,
Plotinus, Al-Farabi, dan Ibn Sina, disamping ajaran Islam yang diyakininya.
Berkaitan dengan, pembuktian terhadap
Tuhan, Ibnu Rusyd menerangkan dalil-dalil yang menyakinkan:
1. Dalil
wujud Allah.Dalam membuktikan adanya Allah, Ibnu Rusyd menolak dalil-dalil yang
pernah dikemukakan oleh beberapa golongan sebelumnya karena tidak sesuai dengan
apa yang telah digariskan oleh Syara’, baik dalam berbagai ayatnya, dan karena
itu Ibnu Rusyd mengemukakan tiga dalil yang dipandangnya sesuai dengan
al-Qur’an dalam berbagai ayatnya, dan karena itu, Ibnu Rusyd mengemukakan tiga
dalil yang dipandangnya sesuai, tidak saja bagi orang awam, tapi juga bagi
orang-orang khusus yang terpelajar.
2. Dalil
‘inayah al-Ilahiyah / pemeliharaan
Tuhan. Dalil ini berpijak pada tujuan sesuatu dalam kaitan dengan manusia.
Artinya segala yang ada ini dijadikan untuk tujuan kelangsungan manusia.
Pertama segala yang ada ini sesuai dengan wujud manusia. Dan kedua, kesesuaian
ini bukanlah terjadi secara kebetulan, tetapi memang sangat diciptakan demikian
oleh sang pencipta bijaksana. Ayat suci yang mendukung dalil tersebut,
diantaranya Q.S, an-Naba’: 78:6-7. Sebagai berikut:
(٧)أَوْتَادًا وَالْجِبَالَ(٦)مِهَادًاالأرْضَنَجْعَلِ
أَلَمْ
Terjemahnnya
: 6. Bukankah Kami telah menjadikan bumi
itu sebagai hamparan?,
7. Dan
gunung-gunung sebagai pasak?,
3.
Dalil Ikhtira’ (dalil ciptaan) Dalil ini didasarkan pada fenomena
ciptaan segala makhluk ini, seperti
ciptaan pada kehidupan benda mati dan berbagai jenis hewan, tumbuh-tumbuhan dan
sebagainya. Menurut Ibnu Rusyd, kita mengamati benda mati lalu terjadi
kehidupan padanya, sehingga yakin adanya Allah yang menciptakannya. Demikian
juga berbagai bintang dan falak di angkasa tunduk seluruhnya kepada
ketentuannya. Karena itu siapa saja yang ingin mengetahui Allah dengan
sebenarnya, maka ia wajib mengetahui hakikat segala sesuatu di alam ini agar ia
dapat mengetahui ciptaan hakiki pada semua realitas ini. Ayat suci yang
mendukung dalil tersebut, diantaranya Q.S, al-Hajj: 73, sebagai berikut:
اللَّهِدُونِمِنْتَدْعُونَالَّذِينَإِنَّۚلَهُفَاسْتَمِعُوامَثَلٌضُرِبَالنَّاسُأَيُّهَايَا
يَسْتَنْقِذُوهُلَاشَيْئًاالذُّبَابُيَسْلُبْهُمُوَإِنْۖلَهُاجْتَمَعُواوَلَوِذُبَابًايَخْلُقُوالَنْ
(٧٣)وَالْمَطْلُوبُالطَّالِبُضَعُفَۚمِنْهُ
Terjemahannya
: 73. Hai manusia, telah dibuat
perumpamaan,Maka dengarkanlah olehmu perumpamaaan itu. Sesungguhnya segala yang
kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun,
walaupun mereka bersatu menciptakannya.Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari
mereka, Tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu.Amat lemahlah
yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah.
4. Dalil
Harkah (Gerak). Dalil ini berasal dari Aristoteles dan Ibnu Rusyd memandangnya
sebagai dalil yang meyakinkan tentang adanya Allah seperti yang digunakan oleh
Aristoteles sebelumnya. Dalil ini menjelaskan bahwa gerak ini tidak tetap dalam
suatu keadaan, tetapi selalu berubah-ubah. Dan semua jenis gerak berakhir pada
gerakpada ruang, dan gerak pada ruang berakhir pada yang bergerak pada dzatnya
dengan sebab penggerak pertama yang tidak bergerak sama sekali, baik pada
dzatnya maupun pada sifatnya. Akan tetapi, Ibnu Rusyd juga berakhir pada
kesimpulan yang dikatakan oleh Aristoteles bahwa gerak itu qadim.
Di dunia eropa ada satu gerakan dan
istilah untuk menunjukkan pengaruh Ibnu Rusyd.Istilah tersebut adalah
Avverroisme merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan penafsiran
filsafat Aristoteles yang dikembangkan Ibnu Rusyd oleh pemikir-pemikir
Barat-Latin, atau juga disebut gerakan intelektual yang berkembang di Barat
pada abad ke 13-17. Hubungan eropa dengan pemikiran Ibnu Rusyd bermula dari
sikap pemerintah al-Muwahhidun setelah kematian Abu Ya’cub tahun 1184 M,
seterusnya digantikan oleh puranya Abu Yusuf al-Mansur.Ia terpengaruh oleh
fitnah orang yang tidak suka kepada Ibnu Rusyd, sehingga beliau ditangkap dan
disingkirkan ke Lucena di selatan Cardova. Pemerintah juga memerintahkan untuk
membakar semua karyanya dan sekaligus melarang membaca karya-karyanya.
Eropa
melakukan akselerasi pembangunan dan pengembangan peradaban dengan mempelajari
pemikiran Ibnu Rusyd.Pemikiran Ibnu Rusyd terus berkembang di Eropa dengan
diterjemahnya buku-buku Rusyd dari bahasa Arab ke bahasa latin dan Ibrani.
Selanjutnya menggoyangkan sosio-religius yang selama ini telah merantai akal
mereka dengan kebijakan gereja. Pengaruh ibnu rusyd ini memunculkan gerakan Averroisme di Barat yang mencoba
mengembangkan gagasan-gagasan Ibnu Rusyd yang rasional dan ilmiyah. Pada
mulanya istilah ini dimaksudkan sebagai bentuk penghinaan terhadap
pendukungnya.Tidak seorang pun yang berani dengan tegas menyatakan dirinya sebagai
pendukung Averroisme.Barulah setelah masa Joannes Jandun (1328) yang pertama
kali menegaskan dirinya secara terbuka sebagai pengikut Averroisme dan diikuti
oleh Urban dari Bologna (1334) serta Paul dari Venesia (1429), para pendukung
pemikiran Ibnu Rusyd lainnya mulai berani secara terang-terangan menyatakan
pendirian mereka.
Gerakan
Averroisme yang ditandai oleh semangat rasional inilah yang melahirkan
renaisans di Eropa artinya kebangkitan Eropa dalam bidang ilmu pengetahuan
warisan Yunani dan Romawi yang pernah padam.Sekaligus melepaskan keterikatan
dengan gereja sebagai agama mayoritas eropa. Era renaisans Eropa muncul pada abad ke-14 hingga sekitar
pertengahan abad ke-17. Tidak mengherankan jika Ibnu Rusyd menjadi salah satu
penyelamat Eropa dari kemandegan ilmu pengetahuan dibawah dominasi dan doktrin
agama yang mengitari sosio kultural masyarakat eropa dengan diterjemahkannya
karya Ibnu Rusyd kedalam bahasa latin dan Ibrani semakin eropa menjadi percaya
diri untuk mengembangkan peradaban.[1]
D.
Kesimpulan
Ibnu Rusyd adalah salah satu
pemikir muslim yang lahir sekitar abad ke 12 M. Nama lengkapnya, Abu Walid
Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Rusyd dan dikenal dengan sebutan Ibnu Rusyd. Ibnu
Rusyd lahir di Cordova, Spanyol pada tahun 520 H/1128 M dan wafat di Marrakesh,
Maroko pada tahun 595 H/ 1198 M. Ia dipromosikan menjadi ketua Mahkamah Agung,
Qadhi al-Qudhat di Cordova pada tahun 1173 M. Beliau mempelajari matematika,
fisika, astronomi, logika, filsafat, dan ilmu pengobatan. Ketika dewasa, beliau
diberikan jabatan untuk pertama kalinya yakni sebagai hakim pada tahun 565
H/1169 M, di Seville. Sebagai seorang filosof dan ahli dalam hukum ia mempunyai
pengaruh besar dikalangan Istana, terutama di zaman Sultan Abu Yusuf Ya’qub
al-Mansur (1184-1199 M). Beliau tidak disenangi oleh kaum ulama dan kaum
fuqaha. Beliau dituduh membawa aliran filsafat yang tidak sesuai dengan ajaran
islam, akhirnya Ibnu Rusyd ditangkap dan diasingkan ke suatu tempat yang
bernama Lucena di daerah Cordova.Oleh sebab itu, kaum filosof tidak disenangi
lagi, maka timbullah pengaruh kaum ulama dan kaum fuqaha.
Karya-karya Ibnu Rusyd
pertama,Tahafut at-Tahafut. Kitab ini secara rinci Ibnu Rusyd mengkritik al
ghazali. Kedua,Fash al-maqal fi ma bain al-Hikmat wa al-Syari’ah min
al-Ittishal yang menjelaskan tentang hubungan antara filsafat dengan agama dan
yang terakhir, Al-Kasyf’an Manahij al-Adillat fi ‘Aqa’id al-Millat yang membahas tentang kritik terhadap metode para
ahli ilmu kalam dan sufi.
Ibnu Rusyd belajar dari peimikiran
Aristoteles.Beliau menghabiskan waktunya untuk membuat syarah atau komentar
atas karya-karya Aristoteles, dan berusaha mengembalikan pemikiran Aristoteles
dalam bentuk aslinya. Ibnu Rusyd memiliki cara pandang yang
integralistik-teosentrik dimana kebenaran wahyu dijadikan sandaran bagi kerja
akal, dan bagaimana akal dan wahyu bisa dijadikan pisau analisis dalam
memecahkan kesukaran memahami realitas dan fenomena. Ibnu Rusyd menegaskan
bahwa terdapat 3 cara/macam manusia dalam memperoleh pengetahuan, pertama lewat
metode al-Khatabiyyah (Retorika), kedua lewat metode al-Jadaliyyah (dialetika)
dan lewat metode al-Burhaniyyah (demonstratif).Hubungannya dengan kefilsafatan,
Ibnu Rusyd menjelaskan tentang konsep ketuhanan bahwa Allah adalah Penggerak
Pertama (muharrik al-awwal).Sifat positif yang dapat diberikan kepada Allah
ialah Akal dan Maqqul.Pembuktian terhadap Tuhan, Ibnu Rusyd menerangkan
dalil-dalil yang menyakinkan yaitu, Dalil wujud Allah, dalil ‘inayah
al-Ilahiyah.pemeliharaan Tuhan, dalil Ikhtira’ (dalil ciptaan) dan dalil Harkah
(Gerak).
Daftar Pustaka
Putra, Aris Try Andreas, 2018, Pemikiran Pendidikan Islam: Tokoh Pemikiran
Klasik dan Modern, Yogyakarta: Diandra Creative.
[1] Aris Try Andreas Putra, Pemikiran Pendidikan Islam: Tokoh
Pemikir Klasik dan Modern,
(Yogyakarta:Diandra Creative), hlm 46-54.