Selasa, 29 Mei 2018

PEMIKIRAN ISLAM( IBNU RUSYD)


PEMIKIRAN IBNU RUSYD DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Oleh :

Rinda Natasya Arindi
Indah Sri Rahayu
Asnita Ningsih
Sidi Gaazalba

Program Studi Tadris IPA dan Manajemen Pendidikan Islam
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri
Kendari

Abstrak
Karya tulis ini, membahas tentang pemikiran Ibnu Rusyd dalam Pendidikan Islam. Pemikiran beliau dikenal dengan konsep integralistik dan  teosentrik. Dalam dunia ilmu pengetahuan, Ibnu Rusyd dikenal sebagai seorang perintis ilmu jaringan tubuh. Beliau juga mempelajari matematika, fisika astronomi, logika, filsafat dan ilmu pengobatan. Ibnu Rusyd  adalah tokoh muslim yang produktif dalam menghasilkan karya serta beliau belajar dari pemikiran Aristoteles namun, dalam berfilsafat beliau selalu melakukan imitasi terhadap pemikiran Aristoteles.

Kata Kunci : Pemikiran, Pendidikan, Islam.





A.    Biografi Ibnu Rusyd (1128 M)
Ibnu Rusyd adalah salah satu pemikir muslim yang lahir sekitar abad 12 M. Pemikiran beliau dikenal dengan konsep integralistik dan teosentrik, dimana usaha dan kegiatan pencarian manusia harus disandarkan pada kebenaran ilaihiah. Ibnu Rusyd lahir di Cordova,Spanyol pada tahun 520 H dan wafat di Marrakesh, Maroko pada tahun 595 H. Nama lengkapnya adalah Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rushyd dan dikenal dengan nama Averroes di Barat. Dalam dunia ilmu pengetahuan, Ibnu Rusyd dikenal sebagai seorang perintis ilmu jaringan tubuh.Ia terlahir pada tahun 520 H/1128 M, beliau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Rusyd. Nama yang biasa kita kenal juga adalah Averrois. Sebutan ini sebenarnya di ambil dari nama kakeknya. Kakek dan ayahnya adalah mantan hakim di Andalus dan ia sendiri pada tahun 565 H/1169 M diangkat pula menjadi hakim di Seville dan Cordova. Karena prestasinya yang luar biasa dalam ilmu hukum, pada tahun 1173 M ia dipromosikan menjadi ketua Mahkamah Agung, Qadhi al-Qudhat di Cordova.
Ibnu Rusyd bersama-sama memperbaiki dan merevisi buku Imam Malik, Al-Muwaththa, yang dipelajarinya bersama ayahnya Abu Al-Qasim dan ia menghapalnya. Beliau juga mempelajari matematika, fisika,astronomi, logika, filsafat, dan ilmu pengobatan. Guru-gurunya dalam ilmu-ilmu tersebut tidak terkenal, tetapi secara keseluruhan Cordova terkenal sebagai pusat studi filsafat.Sehingga Seville (Sevilla) terkenal karena aktivitas-aktivitas artistiknya.Cordova pada saat itu menjadi saingan bagi Damaskus, Baghdad, Kairo, dan kota-kota besar lainnya di negeri-negeri Islam Timur.
Sebagai seorang tokoh yang berasal dari keturunan terhormat, dan keluarga ilmuan, maka ketika dewasa Ibnu Rusyd diberikan jabatan untuk pertama kalinya yakni sebagai hakim pada tahun 565H/1169 M, di Seville. Kemudian ia pun kembali ke Cordova, sepuluh tahun di sana, ia pun diangkat menjadi qhadi, selanjutnya ia juga pernah menjadi dokter Istana di Cordova, dan sebagai seorang filosof dan ahli dalam hukum ia mempunyai pengaruh besar dikalangan Istana, terutama di zaman Sultan Abu Yusuf Ya’qub al-Mansur (1184-99 M). Sebagai seorang filosof, pengaruhnya di kalangan Istana tidak disenangi oleh kaum ulama dan kaum fuqaha.Sewaktu timbul peperangan antara Sultan Abu Yusuf dan kaum Kristen, sultan berhajat pada kata-kata kaum ulama dan kaum fuqaha. Oleh karena itu, kondisi dan situasi menjadi berubah, Ibnu Rusyd disingkirkan oleh kaum  ulama dan kaum fuqaha. Beliau dituduh membawa aliran filsafat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, akhirnya Ibnu Rusyd ditangkap dan diasingkan ke suatu tempat yang bernama Lucena di daerah Cordova.Oleh sebab itu, kaum filosof tidak disenangi lagi, maka timbullah pengaruh kaum ulama dan kaum fuqaha. Ibnu Rusyd sendiri dipindahkan ke Maroko dan meninggaldi sana dalam usia 72 tahun pada tahun 1198 M.

B.     Karya-Karya Ibnu Rusyd
Pada masa Ibnu Rusyd, banyak karya Aristoteles yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan tulisan-tulisan Pseudo-Aristotelian telah dikenali.Banyak tokoh-tokoh yang menyamakan dan membedakan Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.Perbedaan utama Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd adalah bahwa yang terakhir lebih memiliki pemahaman yang jelas dan luas tentang Aristoteles. Aristoteles, bagi Ibnu Rusyd adalah pemikir yang sangat besar, filsuf terbesar yang pernah lahir, yang sama sekali tidak memiliki kesalahan dalam pikiran-pikirannya. Ibnu Rusyd sangat mengagumi logika  Aristoteles. Ia menyatakan “Tanpanya, orang tidak bisa bahagia dan sungguh kasihan bahwa Plato dan Socrates telah menyia-nyiakannya”.
Diantara banyak karyanya, ada sebuah kitab yang khusus untuk mengkritik pemikiran al ghazali.Kitab itu bernama Tahafut at tahafut. Karya-karya Ibnu Rusyd antara lain sebagai berikut:
1.      Tahafut at –Tahafut. Dalam kitab ini secara rinci Ibnu Rusyd mengkritik al ghazali. Kitab Tahafut at-Tahafut lebih dinamis dari pada kitab fashl dalam menjelaskan keunggulan agama yang didasarkan pada wahyu atas akal yang dikaitkan dengan agama yang murni rasional.
2.      Fashl al-maqal fi ma bain al-Hikmat wa al-Syari’ah min al-Ittishal. Kitab Fashl al-maqal fi ma bain al-Hikmat wa al-Syari’ah min al-Ittishal menjelaskan tentang hubungan antara filsafat dengan agama. Dalam kitab ini dapat ditemukan bagaimana agama dan filsafat berdialog.
3.      Al-Kasyf’an Manahij al-Adillat fi ‘Aqa’id al-Millat. Kitab Al-Kasyf’an Manahij al-Adillat fi ‘Aqa’id al-Millat membahas tentang kritik terhadap metode para ilmu kalam dan sufi.
C.    Pemikiran Ibnu Rusyd
Ibnu Rusyd menghabiskan waktunya untuk membuat syarah atau komentar atas karya-karya Aristoteles, dan berusaha mengembalikan pemikiran Aristoteles dalam bentuk aslinya. Di Eropa latin, Ibnu Rusyd terkenal dengan  nama Explainer (asy-Syarih) atau juru tafsir Aristoteles. Sebagai juru tafsir martabatnya tak lebih rendah dariAlexandre d’Aphrodise (filosof yang menafsirkan filsafat Aristoteles abad ke-2 Masehi) dan Thamestius.
Dalam beberapa hal Ibnu Rusyd tidak sependapat dengan tokoh-tokoh filosof sebelumnya, seperti al-Farabi dan Ibnu Sina dalam memahami filsafat Aristoteles, walaupun dalam beberapa persoalan filsafat ia tidak bisa lepas dari pendapat dari kedua filosof muslim tersebut. Menurutnya pemikiran Aristoteles telah bercampur baur dengan unsur-unsur Platonisme yang dibawa komentar-komentar Alexandria.Oleh karena itu, Ibnu Rusyd dianggap berjasa besar dalam memurnikan kembali filsafat Aristoteles.Atas saran gurunya Ibnu Thufail yang memintanya untuk menerjemahkan fikiran-fikiran Aristoteles pada masa dinasti Muwahhidun tahun 557-559 H.
Namun demikian, walaupun Ibnu Rusyd sangat mengagumi Aristoteles bukan berarti dalam berfilsafat beliau selalu melakukan imitasi terhadap pemikiran Aristoteles. Ibnu Rusyd memiliki cara pandang yang integralistik-teosentrik dimana kebenaran wahyu dijadikan sandaran bagi kerja akal, dan bagaimana akal dan wahyu bisa dijadikan pisau analisis dalam memecahkan kesukaran memahami realitas dan fenomena.
Dalam kitabnya Fash al maqal ini, ibn Rusyd menjelaskan bahwa mempelajari filsafat bisa dihukumi wajib.Dengan dasar argumentasi bahwa filsafat tak bedanya mempelajari hal-hal yang wujud dimana manusia dapat mengambil pelajaran dari berfilsafat itu.Filsafat dijadikan sebagai instrument untuk mensyukuri peran akal sebagai potensi dasar manusia. Selanjutnya, Ibnu Rusyd menegaskan bahwa terdapat 3 cara/macam manusia dalam memperoleh pengetahuan sebagai berikut:
1.      Lewat metode al-Khatabiyyah (Retorika),
2.      Lewat metode al-Jadaliyyah (dialetika)
3.      Lewat Metode al-Burhaniyyah (demonstratif).
Hubungannya dengan kefilsafatan, Ibnu Rusyd menjelaskan tentang konsep ketuhanan bahwa Allah adalah Penggerak Pertama (muharrik al-awwal).Sifat positif yang dapt diberikan kepada Allah ialah Akal, dan Maqqul.Wujud Allah Adalah Esa-Nya. Wujud dan  ke-Esa-an tidak berbeda dari zat-Nya. Konsepsi Ibnu Rusyd tentang ketuhanan terbukti merupakan pengaruh Aristoteles, Plotinus, Al-Farabi, dan Ibn Sina, disamping ajaran Islam yang diyakininya.
Berkaitan dengan, pembuktian terhadap Tuhan, Ibnu Rusyd menerangkan dalil-dalil yang menyakinkan:
1.      Dalil wujud Allah.Dalam membuktikan adanya Allah, Ibnu Rusyd menolak dalil-dalil yang pernah dikemukakan oleh beberapa golongan sebelumnya karena tidak sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Syara’, baik dalam berbagai ayatnya, dan karena itu Ibnu Rusyd mengemukakan tiga dalil yang dipandangnya sesuai dengan al-Qur’an dalam berbagai ayatnya, dan karena itu, Ibnu Rusyd mengemukakan tiga dalil yang dipandangnya sesuai, tidak saja bagi orang awam, tapi juga bagi orang-orang khusus yang terpelajar.
2.      Dalil ‘inayah al-Ilahiyah  / pemeliharaan Tuhan. Dalil ini berpijak pada tujuan sesuatu dalam kaitan dengan manusia. Artinya segala yang ada ini dijadikan untuk tujuan kelangsungan manusia. Pertama segala yang ada ini sesuai dengan wujud manusia. Dan kedua, kesesuaian ini bukanlah terjadi secara kebetulan, tetapi memang sangat diciptakan demikian oleh sang pencipta bijaksana. Ayat suci yang mendukung dalil tersebut, diantaranya Q.S, an-Naba’: 78:6-7. Sebagai berikut:

(٧)أَوْتَادًا وَالْجِبَالَ(٦)مِهَادًاالأرْضَنَجْعَلِ أَلَمْ

Terjemahnnya : 6. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?,
7. Dan gunung-gunung sebagai pasak?,
3.  Dalil Ikhtira’ (dalil ciptaan) Dalil ini didasarkan pada fenomena ciptaan segala   makhluk ini, seperti ciptaan pada kehidupan benda mati dan berbagai jenis hewan, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Menurut Ibnu Rusyd, kita mengamati benda mati lalu terjadi kehidupan padanya, sehingga yakin adanya Allah yang menciptakannya. Demikian juga berbagai bintang dan falak di angkasa tunduk seluruhnya kepada ketentuannya. Karena itu siapa saja yang ingin mengetahui Allah dengan sebenarnya, maka ia wajib mengetahui hakikat segala sesuatu di alam ini agar ia dapat mengetahui ciptaan hakiki pada semua realitas ini. Ayat suci yang mendukung dalil tersebut, diantaranya Q.S, al-Hajj: 73, sebagai berikut:

اللَّهِدُونِمِنْتَدْعُونَالَّذِينَإِنَّۚلَهُفَاسْتَمِعُوامَثَلٌضُرِبَالنَّاسُأَيُّهَايَا
يَسْتَنْقِذُوهُلَاشَيْئًاالذُّبَابُيَسْلُبْهُمُوَإِنْۖلَهُاجْتَمَعُواوَلَوِذُبَابًايَخْلُقُوالَنْ
٣)وَالْمَطْلُوبُالطَّالِبُضَعُفَۚمِنْهُ
Terjemahannya : 73. Hai manusia, telah dibuat perumpamaan,Maka dengarkanlah olehmu perumpamaaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya.Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, Tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu.Amat lemahlah yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah.
4.      Dalil Harkah (Gerak). Dalil ini berasal dari Aristoteles dan Ibnu Rusyd memandangnya sebagai dalil yang meyakinkan tentang adanya Allah seperti yang digunakan oleh Aristoteles sebelumnya. Dalil ini menjelaskan bahwa gerak ini tidak tetap dalam suatu keadaan, tetapi selalu berubah-ubah. Dan semua jenis gerak berakhir pada gerakpada ruang, dan gerak pada ruang berakhir pada yang bergerak pada dzatnya dengan sebab penggerak pertama yang tidak bergerak sama sekali, baik pada dzatnya maupun pada sifatnya. Akan tetapi, Ibnu Rusyd juga berakhir pada kesimpulan yang dikatakan oleh Aristoteles bahwa gerak itu qadim.
Di dunia eropa ada satu gerakan dan istilah untuk menunjukkan pengaruh Ibnu Rusyd.Istilah tersebut adalah Avverroisme merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan penafsiran filsafat Aristoteles yang dikembangkan Ibnu Rusyd oleh pemikir-pemikir Barat-Latin, atau juga disebut gerakan intelektual yang berkembang di Barat pada abad ke 13-17. Hubungan eropa dengan pemikiran Ibnu Rusyd bermula dari sikap pemerintah al-Muwahhidun setelah kematian Abu Ya’cub tahun 1184 M, seterusnya digantikan oleh puranya Abu Yusuf al-Mansur.Ia terpengaruh oleh fitnah orang yang tidak suka kepada Ibnu Rusyd, sehingga beliau ditangkap dan disingkirkan ke Lucena di selatan Cardova. Pemerintah juga memerintahkan untuk membakar semua karyanya dan sekaligus melarang membaca karya-karyanya.
      Eropa melakukan akselerasi pembangunan dan pengembangan peradaban dengan mempelajari pemikiran Ibnu Rusyd.Pemikiran Ibnu Rusyd terus berkembang di Eropa dengan diterjemahnya buku-buku Rusyd dari bahasa Arab ke bahasa latin dan Ibrani. Selanjutnya menggoyangkan sosio-religius yang selama ini telah merantai akal mereka dengan kebijakan gereja. Pengaruh ibnu rusyd ini memunculkan  gerakan Averroisme di Barat yang mencoba mengembangkan gagasan-gagasan Ibnu Rusyd yang rasional dan ilmiyah. Pada mulanya istilah ini dimaksudkan sebagai bentuk penghinaan terhadap pendukungnya.Tidak seorang pun yang berani dengan tegas menyatakan dirinya sebagai pendukung Averroisme.Barulah setelah masa Joannes Jandun (1328) yang pertama kali menegaskan dirinya secara terbuka sebagai pengikut Averroisme dan diikuti oleh Urban dari Bologna (1334) serta Paul dari Venesia (1429), para pendukung pemikiran Ibnu Rusyd lainnya mulai berani secara terang-terangan menyatakan pendirian mereka.
      Gerakan Averroisme yang ditandai oleh semangat rasional inilah yang melahirkan renaisans di Eropa artinya kebangkitan Eropa dalam bidang ilmu pengetahuan warisan Yunani dan Romawi yang pernah padam.Sekaligus melepaskan keterikatan dengan gereja sebagai agama mayoritas eropa. Era renaisans  Eropa muncul pada abad ke-14 hingga sekitar pertengahan abad ke-17. Tidak mengherankan jika Ibnu Rusyd menjadi salah satu penyelamat Eropa dari kemandegan ilmu pengetahuan dibawah dominasi dan doktrin agama yang mengitari sosio kultural masyarakat eropa dengan diterjemahkannya karya Ibnu Rusyd kedalam bahasa latin dan Ibrani semakin eropa menjadi percaya diri untuk mengembangkan peradaban.[1]
D.    Kesimpulan
Ibnu Rusyd adalah salah satu pemikir muslim yang lahir sekitar abad ke 12 M. Nama lengkapnya, Abu Walid Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Rusyd dan dikenal dengan sebutan Ibnu Rusyd. Ibnu Rusyd lahir di Cordova, Spanyol pada tahun 520 H/1128 M dan wafat di Marrakesh, Maroko pada tahun 595 H/ 1198 M. Ia dipromosikan menjadi ketua Mahkamah Agung, Qadhi al-Qudhat di Cordova pada tahun 1173 M. Beliau mempelajari matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat, dan ilmu pengobatan. Ketika dewasa, beliau diberikan jabatan untuk pertama kalinya yakni sebagai hakim pada tahun 565 H/1169 M, di Seville. Sebagai seorang filosof dan ahli dalam hukum ia mempunyai pengaruh besar dikalangan Istana, terutama di zaman Sultan Abu Yusuf Ya’qub al-Mansur (1184-1199 M). Beliau tidak disenangi oleh kaum ulama dan kaum fuqaha. Beliau dituduh membawa aliran filsafat yang tidak sesuai dengan ajaran islam, akhirnya Ibnu Rusyd ditangkap dan diasingkan ke suatu tempat yang bernama Lucena di daerah Cordova.Oleh sebab itu, kaum filosof tidak disenangi lagi, maka timbullah pengaruh kaum ulama dan kaum fuqaha.
Karya-karya Ibnu Rusyd pertama,Tahafut at-Tahafut. Kitab ini secara rinci Ibnu Rusyd mengkritik al ghazali. Kedua,Fash al-maqal fi ma bain al-Hikmat wa al-Syari’ah min al-Ittishal yang menjelaskan tentang hubungan antara filsafat dengan agama dan yang terakhir, Al-Kasyf’an Manahij al-Adillat fi ‘Aqa’id al-Millat yang  membahas tentang kritik terhadap metode para ahli ilmu kalam dan sufi.
Ibnu Rusyd belajar dari peimikiran Aristoteles.Beliau menghabiskan waktunya untuk membuat syarah atau komentar atas karya-karya Aristoteles, dan berusaha mengembalikan pemikiran Aristoteles dalam bentuk aslinya. Ibnu Rusyd memiliki cara pandang yang integralistik-teosentrik dimana kebenaran wahyu dijadikan sandaran bagi kerja akal, dan bagaimana akal dan wahyu bisa dijadikan pisau analisis dalam memecahkan kesukaran memahami realitas dan fenomena. Ibnu Rusyd menegaskan bahwa terdapat 3 cara/macam manusia dalam memperoleh pengetahuan, pertama lewat metode al-Khatabiyyah (Retorika), kedua lewat metode al-Jadaliyyah (dialetika) dan lewat metode al-Burhaniyyah (demonstratif).Hubungannya dengan kefilsafatan, Ibnu Rusyd menjelaskan tentang konsep ketuhanan bahwa Allah adalah Penggerak Pertama (muharrik al-awwal).Sifat positif yang dapat diberikan kepada Allah ialah Akal dan Maqqul.Pembuktian terhadap Tuhan, Ibnu Rusyd menerangkan dalil-dalil yang menyakinkan yaitu, Dalil wujud Allah, dalil ‘inayah al-Ilahiyah.pemeliharaan Tuhan, dalil Ikhtira’ (dalil ciptaan) dan dalil Harkah (Gerak).




























Daftar Pustaka

Putra, Aris Try Andreas, 2018, Pemikiran Pendidikan Islam: Tokoh Pemikiran Klasik dan Modern, Yogyakarta: Diandra Creative.



[1]  Aris Try Andreas Putra, Pemikiran Pendidikan Islam: Tokoh Pemikir Klasik dan Modern, (Yogyakarta:Diandra Creative), hlm 46-54.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar